Mengenal Lebih Dekat Sosok Syifa Andina, Ketua Yayasan Balita Sehat (FMCH Indonesia): Sang Insinyur PAUD

Edisi Hari Kartini 21 April 2016

Kemarin siang saya, Mbak Dina (panggilan akrab dari ketua Yayasanku, Syifa Andina), dan Pandu Yosomartono (pemilik House of Yosomartono) berbincang-bincang di sebuah restoran Aceh di kawasan Jakarta Pusat. Sebuah kesempatan yang sangat berharga buat saya mengenal dua sosok inspiratif ini. Lebih berharga lagi karena saya mendengar ‘skenario Tuhan’ hingga Mbak Dina masuk ke dunia development (alih-alih dunia komersial yang lebih sesuai dengan jurusan kuliahnya) dan akhirnya “terjerumus” menjadi Ketua Yayasan Balita Sehat. Mbak Dina ini menurutku sangat keren sehingga aku ingin menulis sesuatu tentangnya. Dia pintar, bijak, tegas, dengan pencapaian-pencapaian yang fenomenal menurutku di usianya yang masih muda.

IMG_1386

“Awalnya aku merasa sebel dan malas kuliah gara-gara dikekep di Aceh. Tadinya aku udah lulus di UGM tapi nggak diizinkan oleh orang tua karena aku anak pertama, perempuan lagi…

Tapi kemudian aku merasa bersyukur aku ada di Aceh, aku ada disana ketika Tsunami. Aku ingat, waktu itu aku bekerja ketika Tsunami karena satu tujuan, membantu satu teman yang kehilangan semua anggota keluarganya. Dia sebatang kara dan aku ingin membantunya.

Aku sendiri dan keluargaku sempat tinggal di pengungsian selama sebulan. Dari situ aku bersyukur merasakan semuanya, dan aku diberikan kesempatan untuk berkontribusi untuk membangun lagi, justru itu menjadi batu loncatan untuk menjadi seperti sekarang…”

Pekerjaan pertama yang didapatkan oleh Mbak Dina ketika itu adalah menjadi translator untuk sekelompok dokter dari Eropa. Dia menggunakan keterampilannya berbahasa Inggris, Indonesia dan Aceh untuk melakukan tugas tersebut. Dari situ, Mbak Dina mulai terlibat dan menyukai dunia development khususnya di bidang Pendidikan Anak Usia Dini.

Tahun 2006 Mbak Dina melamar dan mendapatkan posisi National Advisor for Early Childhood Education di Plan Indonesia. Banyak orang pada awalnya meragukan kemampuannya karena umur yang masih sangat muda waktu itu (sekitar 23 tahun), namun dia berhasil membuktikan bahwa mereka yang sudah memilih itu tidak salah pilih.

Sejak tahun 2010 Mbak Dina memulai karier sebagai konsultan independen. Pemikiran-pemikirannya diterima baik di dunia LSM maupun di pemerintahan. Ia mengembangkan modul untuk pemerintah RI, World Bank, NGO internasional di Indonesia, bahkan NGO internasional diluar negeri. Saya sendiri sudah dua kali membantu Mbak Dina (secara professional alias dibayar :p) membuatkan video-video untuk presentasi pekerjaan konsultannya yang dua-duanya adalah untuk pekerjaan di luar negeri (satu di Timor Leste dan satu lagi di Kamboja).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gaya Mbak Dina saat memberikan training kepada guru PAUD

“Aku ketemu YBS (yang membawa hingga ke posisi Ketua saat ini) pertama kali tahun 2013 saat aku menawarkan jadi volunteer untuk mengembangkan strategic planning YBS. Cerita punya cerita, Febri berkeluh kesah tentang situasi sulit di yayasan, akte notaris dll… mereka butuh Ketua yang orang Indonesia karena sulit untuk punya ketua ekspatriat. Aku kasi ide pinjem KTP orang Indonesia saja, eehh akhirnya mereka malah mendekati aku untuk pinjem KTP, hahaha… tapi aku nggak mau, kalau aku jadi Ketua, ya aku harus ambil tanggung jawabnya. Nggak bisa cuma taro nama saja…

Aku inget banget, waktu aku presentasi skripsiku, aku udah kerja di NGO. Dosenku tanya, kamu ini teknik kimia, ngapain kerja di NGO.. apa yang mau kamu lakukan? Akhirnya aku menjawab spontan… saya ini punya knowledge tentang industri, dan saya punya experience di social work, cita-cita saya ini pak, dalam 10 tahun paling tidak saya ingin bisa menggaet orang-orang di industri untuk bisa lebih peduli pada masalah sosial. Nah akhirnya waktu YBS memintaku menjadi ketua ini, aku ingat mereka punya HERproject, mereka mengedukasi tentang kesehatan untuk pekerja perempuan di pabrik-pabrik. Kupikir ini jalan Tuhan… aku bisa memenuhi cita-citaku…

Walaupun aku nggak bersentuhan langsung dengan ibu dan anak beneficiaries yayasan, aku bisa memberikan ide-ide, memotivasi staf, memberikan sistem kerja yang lebih baik… Aku membantu YBS di hal-hal bersifat managerial, sistem HR, memberi input program… Aku melihat yayasan ini potensinya besar… Aku senang, ini dinilai rupiah tidak ada apa-apanya, tapi kepuasan! Ini kesempatan yang setiap nggak setiap orang bisa dapat… ketika kesempatan itu dibuka, kita merasa hidup lebih berarti.”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penyerahan hadiah Jalan Sehat oleh Mbak Dina dalam rangka Hari Gizi Nasional

Pandu bilang, itu seperti Pop-up message dari Tuhan. Ketika kita berhadapan dengan sesuatu, kita teringat atau terpikir akan sesuatu yang membuat kita memutuskan untuk melakukan sesuatu hal yang baik. Apapun itu, saya merasa sangat bersyukur karena Allah SWT mengirimkan Sang Insinyur PAUD, perempuan Aceh hasil Tsunami ini untuk kami di Yayasan Balita Sehat.

*Pagi ini aku bangun jam 3.30 subuh dan nggak bisa tidur lagi, akhirnya memutuskan untuk menulis ini, dan kelar hanya dalam waktu 1 jam. Tulisan pertama setelah berbulan-bulan nggak nulis. Tulisan lain tentang sosok inspiratif setelah pada Agustus 2014 aku menuliskan tentang dua sahabat inspiratifku. How much I love it, menulis tentang pribadi-pribadi yang menginspirasi. Target berikutnya, menulis tentang Pandu Yosomartono, desainer ‘gila’ yang baik hati.

One thought on “Mengenal Lebih Dekat Sosok Syifa Andina, Ketua Yayasan Balita Sehat (FMCH Indonesia): Sang Insinyur PAUD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s