Curahan Hati Seorang Sahabat: Pejuang Lokal Prestasi Internasional

Mumpung masih di bulan Agustus, aku ingin memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dengan membuat sebuah tulisan yang tidak biasa. Bukan tentang liputan kemeriahan perayaan 17 Agustusan yang biasa digelar di kampung-kampung atau kilas balik sejarah perjuangan pahlawan-pahlawan nasional. Bukan itu. Aku akan menuliskan kisah tentang dua sahabat yang kukagumi karena keunikan dan prestasinya.

Sahabat pertama yang akan kuceritakan adalah seorang perempuan bertubuh mungil, sebelas dua belas dengan ukuran tubuhku, yang telah menjadi teman baikku sejak SMP di Singkawang, Kalimantan Barat. Jujur saja, dia bukan murid yang menonjol dari segi akademis. Berbeda denganku yang selalu ada di jajaran 3 besar, dia tak pernah mencatatkan namanya disana. Dia mencatatkan namanya sebagai siswa yang super aktif di kegiatan pecinta alam. Mendaki gunung lewati lembah seperti Ninja Hatori ia lakoni. Hingga akhirnya kami lulus SMA, kami berpisah. Kami yang sama-sama tidak menyukai pelajaran Matematika ini mencari fakultas yang tidak ada pelajaran Matematikanya. Kami yakin, pelajaran log, sigma, dan rumus-rumus yang segambreng itu tidak ada gunanya dalam kehidupan praktis. Dan ternyata benar, so far kita cuma butuh perhitungan sederhana dalam hidup. Ambil kalkulator, beres! Haha…

Aku ‘terdampar’ di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, sementara dia, sama-sama bidang kesehatan juga, tapi untuk hewan. Ya, akhirnya sahabatku ini masuk ke Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Bali, yang baru iseng-iseng ditentukannya pada pagi hari sebelum mengikuti ujian UMPTN. Disitulah takdirnya bermuara, dia diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Udayana dan menjalani pendidikannya. Aku tertawa tak henti ketika dia menceritakan tentang pengalamannya masuk FKH. Misalnya saat orientasi, dia disuruh bawa nyamuk mati namun harus dalam keadaan utuh, tidak boleh bawa nyamuk penyet :p kemudian ia juga pernah ngelus-ngelus penis (menkominfo, tolong ini jangan disensor, ya!) anjing dan babi agar bisa membawa sperma hewan tersebut untuk dipelajari, dan lain-lain yang unik-unik yang tidak pernah kubayangkan.

Kami banyak bertukar cerita terutama ketika sedang berkumpul saat lebaran. Sejak kuliah dia sudah aktif di kegiatan perlindungan hewan seperti menjadi relawan WWF. Tidak lama setelah mendapat gelar sarjana, dia langsung meneruskan S2-nya juga di Udayana dengan spesialisasi Lingkungan Pesisir.

Sahabatku ini terlihat sangat menikmati apa yang ia pelajari. Hingga beberapa tahun kemudian setelah lulus S2, kariernya melesat dengan cepat. Dia kembali ke Kalimantan Barat dan memegang program perlindungan penyu. Namanya kemudian malang melintang di media lokal dan nasional. Ia menjadi salah satu ahli penyu di Indonesia. Kalau kalian mengenalnya lebih dekat, kalian akan tahu betapa cintanya ia dengan penyu. Ia mengkoleksi barang-barang yang berbau penyu. Dari bantal, sandal, gelang, kaos, topi, boneka, hingga namanya pun sudah terkenal dengan Dwi Penyu. Saking patennya nama itu, dia menempelkan potongan logam yang membentuk nama DWI PENYU diatas tulisan merk mobil barunya! 

Sahabatku Dwi 'Penyu' in action

Sahabatku Dwi ‘Penyu’ in action

Aku tidak akan pernah melupakan saat kami curhat tentang pekerjaan kami yang “tidak dikenal” di kampung ini. Kebanyakan orang-orang di kampung hanya mengenal PNS –paling dihormati, dan pegawai swasta. Tapi kami bukan, kami hanyalah pekerja NGO atau LSM yang tidak pernah punya seragam. Kalau ada tetangga yang bertanya apa pekerjaannya, sahabatku ini selalu bingung untuk menjelaskan. Pernah sekali dia menjawab WWF, dan dia dikira bekerja dibidang olahraga tinju ataupun lembaga kredit motor:D Masyarakat memang belum menghargai pekerjaan yang ‘tidak jelas’ seperti pekerja NGO. Padahal kalau saja mereka tahu, sahabatku ini sudah dikirim ke Amerika untuk bicara tentang Penyu , bahkan menjadi konsultan di salah satu kementrian hingga menjadi dosen terbang di beberapa universitas dalam memberikan kuliah umum dibidang spesies khususnya penyu.

Dia sudah dikenal di kalangan internasional. Dia bekerja di WWF yang notabene didanai Internasional. Tapi apakah dia tidak berjuang untuk Indonesia? Dia memusuhi (dan mungkin dimusuhi) mafia, pedagang dan penikmat  telur penyu. Dia berjuang untuk melindungi kelangsungan hidup penyu di Indonesia terutama di pantai-pantai di Kalimantan Barat. Dia melawan perdagangan telur penyu sepenuh hati (yang membuat aku tak enak hati ketika menyadari bahwa aku masih suka makan telur penyu). Bekerja itu dimana saja, tapi apa yang dilakukannya adalah yang terpenting. Dia bekerja keras untuk menjaga kekayaan alam Indonesia. Bekerja sama dengan pihak asing itu bukan masalah, ketika kita justru bisa menguatkan potensi Negara kita tercinta ini. Salut untuk sahabatku, Dwi Penyu!

***

Sahabat kedua yang tidak kalah kerennya adalah seorang teman laki-laki yang sering memberiku tumpangan pulang saat SMA dulu. Dia unik dari SMA, kerjaannya megang kamus kemana-mana. Bahasanya juga aneh-aneh, bukan hanya bahasa Inggris. Mimpinya mau masuk jurusan Bahasa, sayangnya SMA kami tidak menyediakan jurusan bahasa, sehingga dia terpaksa masuk jurusan IPS. Awalnya dia dimasukkan guru-guru ke IPA, tapi dia sadar diri dengan kemampuannya. Dia minta segera dipindahkan ke IPS agar tak langsung di-DO katanya. Sahabat yang satu ini terkenal rame dan kocak. Kami sering membuat banyolan juga tentangnya. Kami bilang, dia bukan makan nasi, tapi kamus. Dan tahukah kalian apa yang terjadi kemudian? Dia juga masuk UI sepertiku, tapi di D3 jurusan Sastra Perancis. Lalu belum selesai kuliahnya, dia ambil lagi S1 jurusan Sastra Rusia (bahkan dia juga sempat exchange ke Universitas Negeri Moscow).

Aku rasa dia lulus dengan cum laude juga. Lalu dia meneruskan kuliah S2 nya di Universitas Lisbon, Portugal, dengan beberapa kuliah yang diambil di Universitas Santiago de Compostela, Spanyol. Dia menjelajah Negara-negara di Eropa juga, bahkan lebih banyak dariku. Bahkan sahabatku yang sekarang sudah menjadi dosen tetap di UI ini pernah diwawancara khusus oleh sebuah stasiun TV di Spanyol  karena dia adalah satu-satunya linguist Indonesia yang mempelajari bahasa Galego, sebuah bahasa daerah di  Provinsi Galicia, Spanyol , yang kalau di Indonesia ini seperti bahasa Jawa halus atau Dayak iban. Keren kan? Tidak berlebihan kalau sahabat yang satu ini disebut polyglot karena dia sudah fasih bicara dalam setidaknya 7 bahasa diluar bahasa Ibu. Bahasa Inggris, Perancis, Portugis, Rusia, Spanyol, Italia, Galego. Tidak Cuma itu, sebagai tambahan, sahabatku ini juga bisa berbahasa Romania, Katalan, Jerman, Ceko, Turki,  walaupun tidak terlalu fasih. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah dia benar-benar makan kamus seperti yang kami katakan dulu karena keterlaluan hebatnya😀

'Dosen Malaikat' di FIB UI

Arif Budiman, dijuluki ‘Dosen Malaikat’ di FIB UI

Kalau dipikir-pikir, luar biasa ya prestasi kawan yang satu ini. Bayangkan, kita  menjalani satu kuliah aja udah mpot-mpotan, dia sekali pegang dua kuliah. Kita bahasa Inggris aja masih belepotan, dia bahkan udah khatam bahasa Rusia yang hurufnya kebalik-balik itu. Tapi itulah yang namanya passion, yang aku yakini akan membawa orang melesat meninggalkan orang lain yang mainstream, yang belajar hanya karena harus lulus atau bekerja hanya karena mencari uang.

Passion adalah kunci yang akan membuka kesuksesan kita. Passion adalah seuatu yang akan membedakan kita dengan orang lain, yang akan membuat kita diingat dan bermakna. Tidak peduli seberapa pintar atau bodohnya dirimu mengerjakan soal matematika atau fisika, ketika kamu berhasil menemukan passionmu dan mengeksplorasinya sedalam mungkin, kamu akan menjadi ahlinya. Dua sahabat saya tadi tidak pernah bagus nilai matematikanya, kalaupun pernah bagus, itu the one and only yang diingatnya hingga sekarang. Dan memang kita tak perlu pintar untuk semua mata pelajaran. Tapi temukan passion, temukan passion! Itu yang selalu aku sampaikan pada saudara, sahabat atau staf tentang bagaimana untuk mendidik anak. Kecerdasan menemukan passion dan mengasahnya adalah hal yang sungguh berharga. Aku bangga setengah mati dengan dua sahabatku ini.

Yang lebih membanggakan lagi, walaupun sudah menguasai 7 bahasa internasional, sahabatku yang Arif dan Budiman ini (namanya benar-benar Arif Budiman, lho!) tidak pernah melupakan bahasa daerahnya. Dia tidak pernah merasa gengsi untuk bicara dalam bahasa daerah yang “se-ndeso-ndesonya”. Kalau dalam istilah Jawa, dia adalah yang paling medhok diantara kami dalam penggunaan bahasa Melayu di kehidupan sehari-hari. Tak jarang ia menuliskan status dalam bahasa Melayu kental yang orang-orang harus melotot untuk mengetahui artinya, atau membuat kuis interaktif di laman Facebook-nya.  Di pertemuan kami di musim lebaran kemarin, aku mendengar sesuatu darinya yang membuatku semakin bangga. “Aku adalah satu-satunya di keluargaku yang paling semangat melestarikan penggunaan bahasa Melayu setelah nenekku. Aku bertekad akan menjaganya. Masa kita mempelajari bahasa orang jauh-jauh, tapi kemudian melupakan bahasa sendiri?”

Demikian ceritaku kali ini. Aku dedikasikan tulisan ini untuk dua sahabat yang selalu menginspirasi, Dwi Suprapti dan Arif Budiman, sosok ‘pejuang’ daerah yang berwawasan internasional. Adalah suatu kemerdekaan ketika kita bisa melepaskan diri dari sesuatu yang dipaksakan, lalu menemukan passion kita yang sesungguhnya dan mengasahnya hingga berkilauan. Merdeka!!!

***

*Nur Febriani Wardi, SKM, MA. Penulis buku Haram Keliling Dunia. Twitter: @enefwe email: haramkelilingdunia@gmail.com

4 thoughts on “Curahan Hati Seorang Sahabat: Pejuang Lokal Prestasi Internasional

  1. Cuma mau menambahkan satu kutipan bagus buat yang masih belum menemukan passion dalam dirinya.

    Tidak masalah jika kita belum menemukan passion kita, selama kita masih keep moving. It is better than nothing” Gunawan Susanto (Presiden Direktur IBM)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s