Visa Amerika, It couldn’t be easier!

Entah kenapa mitos-mitos yang terdengar mengenai cara mendapatkan visa amerika adalah: susah! Kenyataannya? It couldn’t be easier. Aku membuktikannya beberapa minggu yang lalu, saat aku membutuhkan visa Amerika untuk menghadiri sebuah konferensi, Global Health Conference, di Yale University, New Haven, Connecticut 12-13 April 2014 *bentar lagii* http://www.uniteforsight.org/conference/

Bagiku upaya untuk mendapatkan visa Amerika ini lebih gampang daripada upayaku untuk mendapatkan visa Schengen untukku traveling ke Eropa 6 bulan yang lalu. Kenapa? Karena tujuan visa ini adalah untuk menghadiri sebuah konferensi, perjalananku sebagian disponsori kantor, uang di rekeningku nggak tipis-tipis amat, dan yang paling penting visa Schengen telah tertempel manis di pasporku. Aku 99 persen yakin kalau aplikasi ini akan berjalan lancar tanpa hambatan. Meskipun tebakanku benar kalau aplikasi ini berjalan mulus, demi liberty, perjuangan tetap dibutuhkan. Yang paling pertama kulakukan adalah mengisi formulir DS-160 online. Website-nya disini http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/id/visas/form-visas.html Form-nya disini: https://ceac.state.gov/genniv/

DS-160 harus diisi dengan telaten dan hati-hati agar tidak salah dalam melakukan pengisian. Yang harus dilakukan hati-hati adalah mengisi kode jenis visa yang ingin diperoleh. Setelah membaca disana-sini, akhirnya aku mencantumkan kode visa B1/B2 untuk keperluanku, yaitu visa business and tourism. Karena jelas, setelah konferensi aku mau jalan-jalan mengeksplor kota-kota terdekat seperti New York dan Boston. B1 kalau tidak salah khusus untuk bisnis saja, dan B2 khusus untuk pelesir saja.

Mengisi formulir D160 dan membaca banyak referensi membutuhkan waktu sekitar 1 jam-2 jam. Tibalah aku di penghujung formulir dimana aku diminta untuk meng-upload sebuah pas foto berukuran 5cm x 5cm (I know it’s weird). Karena aku belum mempunyai foto saat itu, aku menyimpan dokumenku secara online.

Sambil mempersipakan pas foto berlatar putih dan tampak wajah yang jelas, aku kemudian melakukan pembayaran biaya visa sebesar 160 dollar Amerika atau saat itu sebesar rp. 1.840.000. Pembayaran menurut informasi di website bisa dilakukan di Bank Permata atau Standard Chartered Bank. Informasi lengkap disini http://www.ustraveldocs.com/id/id-niv-visapay.asp

Tanggal 19 Maret, setelah mencetak slip deposit (wajib) yang didapatkan dari http://www.ustraveldocs.com/id/pmisdepositslip.htm?amount=160&country=indonesia aku minta izin kantor untuk ke Bank Permata di daerah Melawai Blok M untuk membayarnya. Setelah berputar-putar daerah Wijaya, aku menemukan Bank Permata tersebut. Namun alangkah mengecewakan setelah sampai disana… Sang teller menginformasikan kepadaku kalau pembayaran melalui Bank Permata membutuhkan waktu 2-3 hari baru memungkinkan untuk penjadwalan wawancara karena mereka harus mengirim uang ke Standard Chartered Bank dulu. Dhuengg!!! Kenapa info di website menyatakan kalau waktu tunggu untuk penjadwalan wawancara hanya 4 jam setelah pembayaran biaya visa di Bank Permata maupun Bank Stanchart? “Ya justru itu Mbak, makanya kami informasikan diawal, soalnya banyak yang komplain…” kata si teller cantik.

Aku bersungut-sungut keluar. Udah panas-panas, nyasar-nyasar, eh gak bisa pula! Napa gak langsung aja aku ke Stanchart? Akhirnya aku balik lagi ke kantor untuk minta petunjuk cara ke Stanchart terdekat, di Pondok Indah. Siang itu aku langsung pergi ke Stanchart karena aku membutuhkan jadwal wawancara segera. Proses di Stanchart berjalan lancar. Walaupun aku harus menunggu cukup lama, namun tempatnya cozy sehingga aku santai saja menunggu dipanggil oleh customer service-nya.

Image

Setelah selesai membayar, aku kembali ke kantor dengan selamat, kemudian memotret tanda bukti pembayaran yang katanya harus disimpan baik-baik karena akan diserahkan nanti di kedutaan.

Image

Keesokan harinya aku membuat jadwal wawancara. Kupilih waktu yang terdekat. Oke, jumat 21 Maret pagi jam 7! Semangaattt!!! *secara waktu berangkat dah cukup mepet, 10 April* Aku segera mengecek kembali dokumen-dokumenku: konfirmasi pengisian formulir DS-160 yang telah kudapatkan setelah mengupload pas foto, konfirmasi jadwal wawancara, paspor baru dan paspor lama (paspor lamaku gak ketemu sampai hari H wawancara), pas foto yang sudah dicetak ukuran 5cm x 5 cm.

FYI, aku nyetak foto di Snapy karena tempat print foto kayak Fuji-fuji gitu udah susah sekali ditemukan, setidaknya di sepanjang Buncit-Mampang. Cetak foto di Snapy itu kalo nggak mepet setengah mati gak akan kulakukan lagi. Aku kecewa tingkat tinggi dengan hasil cetak fotonya. Itu asli cuma printer biasa plus kertas foto yang dibeli eceran, hasilnya ampun deh, bintik-bintik karena pixel yang sangat kasar. Sama aja dengan cetak di printer sendiri, huh…

Nah, selain dokumen-dokumen utama yang sudah kusebutkan tadi, aku juga menyiapkan beberapa dokumen pendukung seperti fotokopi buku tabungan, konfirmasi hotel, konfirmasi dari penyelenggara konferensi, undangan dari teman di Kentucky (karena aku belum pesan hostel untuk tempat tinggal selama jalan-jalan setelah konferensi) dan buku Haram Keliling Dunia (in case :p)

Jumat subuh aku sudah bangun, segera siap-siap ke kedutaan Amerika. Jam 06.15 PAGI aku sudah tiba disana (saat mau bayar taksi, bapaknya gak ada kembalian… Ya udah Pak, ambil aja, doain saja saya dapat visanya :))

Aku diarahkan untuk langsung mengantri bersama belasan orang lainnya. Sambil mengantri, jadwal wawancara kami diperiksa dan barang elektronik disuruh diletakkan diatas nampan kecil. Jam 6.30, kelompok pertama masuk.

 

Aku masuk antrian kelompok kedua dan kami masuk 10 menit setelahnya untuk scan tas dan badan. Belum apa-apa aku sudah membuat kesalahan, tasku nggak lolos karena kata petugasnya: “masih ada USB bu, tolong dikeluarkan”. Duh, seingatku aku gak bawa USB. OMG, ternyata ada card reader micro SD kecil yang sudah lama banget tidak dipakai dan tergantung di kunci kamar kosku. Hebat mereka bisa tau😀 Ohya, berhubung handphone sudah tidak bisa dibawa masuk, jadi proses di dalam terpaksa tidak ada fotonya ya…

Setelah menitipkan barang-barang elektronik, kami juga mendapatkan badge tanda pengunjung . dari ruangan scanning itu kami memasuki ruangan tunggu dan loket awal. Disitu ada 2 officer, satu cewek dan satu cowok. Yang cewek kelihatan tegas banget, sementara yang cowok, ramah dan manis ;p Officer itu meminta kami mengeluarkan paspor dan lembar konfirmasi wawancara serta lembar konfirmasi formulir DS-160 dan pas foto, lalu mereka membantu membundel dokumen itu dan meminta kami untuk memasukkan dokumen lainnya. Dari situ, kami diminta untuk mengambil nomor antrian. Aku mendapatkan nomor 012. Saat diminta mengeluarkan paspor oleh si Mbak, aku dengan agak takut mengabarkan kalau aku telah kehilangan paspor lamaku. Ternyata dia santai saja, gak apa-apa, itu untuk data saja, katanya. Hatiku langsung tenang…

Pukul 7.15 aku dipanggil ke konter 1 berhadapan dengan seorang petugas perempuan Indonesia. Dia menanyaiku beberapa hal: mau ngapain ke Amerika? sudah pernah ke US sebelumnya? Lalu aku diberi kartu yang berisi informasi tentang cara mendapatkan non-immigrant visa (NIV) dan nomor kelompok wawancaraku dimana aku mendapat nomor kelompok 03. Dari konter-konter awal itu, kami diarahkan masuk ke ruangan khusus untuk sidik jari dan wawancara. Disitu tempat pengadilan kami…

Pukul 7.30 kelompok I dipanggil untuk sidik jari dan dilanjutkan dengan menunggu untuk wawancara. 10 menit kemudian kelompokku dipanggil. Kami berbaris menunggu giliran sidik jari. Seorang perempuan (mungkin) Amerika menanyaiku cepat: what’s your name? kemudian menyuruhku menempelkan 4 jari kiri, 4 jari kanan, dan 2 jempol ke alat sidik jari, dibantu oleh mas manis yang tadi bertugas di depan. Setelah sidik jari selesai, kami menunggu proses wawancara. Sambil menunggu, aku sudah mulai wawancara dengan cowok di sebelahku, dia mau training IT ke Colorado, Denver. Wew, keren. *secara aku cuma ikut konferensi, gak presentasi juga… malu :p* Hati-hati di Connecticut, ada tuh film horror settingnya disitu, katanya bercanda.

Pukul 8.00 kelompok 3 dipanggil untuk wawancara. Aku berbaris di depan si cowok film horror. Jam 8 lewat dikit aku dipanggil. Siapa nama? Mau apa anda di Amerika? Konferensi apa? Siapa buat konferensi? Anda bekerja dimana? Paspor lama kemana? (hilang, sorry) Sudah kemana saja? (UK, France, Belgium, Germany… Many countries in Europe.. Saya kuliah di belanda) Umm, when did you graduate? What did you study? Who will pay this trip? Does your organization work with the conference’s host organization? Hanya sekitar 5 menit wawancara cepat itu. Okay, zzzz… zzz… this is for you… zzz… Dia menyodorkan sebuah kerta putih. Aku nggak mendengar jelas kata-kata Mbak bule itu, aku mengambil kertas fotokopian yang diberikannya lalu keluar barisan.

08.15 aku membaca kertas itu sekali lagi, ada tulisan bold dibagian atasnya, Selamat visa Amerika anda telah disetujui! What?? Jadi udah nih? Gak disuruh liat-liatin berkas apa-apa? Udah cape-cape minta surat undangan, ngeprint buku tabungan, booking hotel?? Sumpah gak diminta satupun! Hehehehe… Alhamdulillahhh…

Image

Selasa siang 25 Maret 2014 atau hanya berselang 4 hari dari jadwal wawancaraku, paspor itu dianter oleh kurir RPX langsung ke kantor sesuai permintaanku. Gak perlu bayar lagi, udah tinggal tanda tangan. Kubuka plastik yang membungkus dokumen itu. Perlahan sekali kukeluarkan dan kubuka pasporku. Lalu kututup dan kukecup sumringah. It’s there!!

Image

See? It couldn’t be easier, guys! and New York, I’m coming!!!

11 thoughts on “Visa Amerika, It couldn’t be easier!

  1. Hai mba
    artikelnya sangat membantu
    mau tanya paspor lama saya juga hilang. sementara paspor baru masih kosong banget
    dalam waktu dekat saya akan interview. apakah teteap akan ditanya, atau membuat surat keterangan hilang dari kepolisian ya mba. Mohon saran
    Salam

    Asdan

    • Sudah dijawab via twitter dan sudah diapprove ya🙂 Saya baru buka blog nih.

      Nah kalau ada teman2 lain punya kasus kayak gini, saya sih sarannya begini:

      Kalau untuk urusan bisnis seperti training atau belajar, tidak perlu buat surat keterangan hilang. Biasanya akan lebih mudah approvalnya.
      Tapi kalau untuk sekedar tujuan tourism atau pleasure, sepertinya perlu dibuat keterangan hilang.

      Mungkin Asdan bisa berbagi bagaimana akhirnya mengatasi paspor lama hilang?

  2. Salam Kenal, Mba Febri! (aku tahu namanya dari komennya Mba Nella)😛

    Huaaaaa, seru ya mba prosedur bikin visa yg to the point itu😄 tahun ini sebenarnya saya rencana mau ke Eropa, tapi gara2 ngobrolin Amerika sama travel mate saya malah jadi galau >..<

    Thanks ya mba atas sharingnya, doakan saya bisa ke negara impian saya (entah Eropa/Amerika)😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s