Cinderella di Kapal Henry Dunant (2)

Mentorku sangat baik. Beliau mengajarkanku cara menata roti-roti, daftar roti, biscuit, dan cake yang bermacam-macam. Aku juga diperkenalkan dengan tim mencuci piring (oh ternyata tugasku cuci piring juga, hahaha.. tapi gak papa.. daripada cuci toilet). Tapi jangan bayangin cuci piringnya di wastafel atau mesin cuci piring biasa. Bukan, bukan yang itu. Karena ini untuk melayani ratusan orang penumpang kapal, alat cuci piringnya gedee, kayak kotak 2 meter kesamping dan disampingnya ada rel-rel. Kita letakkan satu per satu keranjang berisi peralatan makan yang sudah disemprot air dengan kekuatan tinggi, nanti keranjang itu jalan sendiri dengan rel langsung masuk ke kotak. Didalam kotak itu piring dibersihkan lagi. Keluar dari kotak itu piring gelas sudah bersih dan panas, karena sekalian dikeringkan. Jadi teman kita tinggal tunggu diujung sana untuk mengelap piring gelas itu. Udah deh, tinggal teman yang lain memasukkan peralatan makan itu sesuai variannya.

Whatever, I was so lucky. Aku menyukai tim baruku ini, dan mereka juga menyukaiku. Beberapa dari mereka bisa berbahasa Inggris. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, aku belajar dengan baik semua yang mereka ajarkan padaku. Mulai dari belajar kosakata alat-alat dapur dan peralatan makan dalam bahasa Belanda, misalnya kleine messen untuk pisau makan kecil, grote messen untuk pisau makan besar. Belajar kosakata dapur ini penting karena hampir semua tamu akan meminta alat makan dalam bahasa Belanda. Aku juga belajar bagaimana menata kue, keju, selai, dan kawan-kawannya, hingga membersihkan lantai dapur. Kebersihan adalah yang utama bagi orang disana. Lantai dapur tidak dibersihkan sebulan sekali atau seminggu sekali, tapi setiap hari. Setelah selesai membersihkan semua peralatan makan malam, kami akan menyikat, mencurahkan karbol dan air panas agar dapur bersih dan bebas bakteri, dan siap digunakan lagi keesokan harinya.

Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Setiap pagi aku bangun jam 5 lewat, sholat subuh, kemudian meninggalkan kabinku menuju restoran. Saat hampir semua orang masih tidur, kami sudah beres-beres, menata meja dan peralatan makan, memasukkan aneka roti, cake dan biscuit ke tempatnya, kemudian menunggu para chef selesai masak dan kami menyajikannya. Jam setengah delapan, para penumpang mulai berdatangan ke restoran bersama perawatnya masing-masing.

Bersama Tim Restoran dan Dapur

Aku berdua dengan mentorku yang bertugas memastikan wadah-wadah di meja terisi dengan baik. Akibatnya, aku pun hilir mudik disekitar meja itu. Rupanya, tamu-tamu memperhatikanku. Wajar saja, aku beda sendiri. Relawan-relawan lain sudah beruban, aku paling muda sendiri (paling kecil dan paling eksotis juga, hehehe).

Mentorku sampai menanyaiku, Emangnya kamu udah nggak butuh duit? Dia heran anak muda sepertiku mau jadi volunteer 6 hari kerja keras tanpa dibayar. Ya butuh lah Mam, tapi bagiku pengalaman itu jauh lebih mahal. Aku aja sampai bolos kuliah kok untuk bisa datang kesini, kataku. Dia terbengong-bengong mendengarku. FYI, relawan di Belanda itu umumnya orang-orang tua yang sudah pensiun dan nggak butuh uang lagi, dan hanya ingin berbagi dengan sesama sambil menikmati hari tuanya.

Aku nggak menyangka, sifat alienku itu ternyata menguntungkanku dan membuatku nyaman. Tiap hari banyak tamu yang menyapaku, mereka bicara tentangku dan peduli sekali denganku. Alles goed? (everything’s fine?), do you like working here?, tired, no?, don’t forget to eat first before serving🙂 kakek nenek yang berbahasa Belanda pun kadang mengajakku ngobrol sambil menggenggam tanganku. Aku cuma tertawa-tawa, gak ngerti mereka ngomong apa, hehehe… Ada juga seorang kakek uzur yang ternyata orang Indonesia yang sudah lama sekali di Belanda (ngomongnya aja sudah campur sari), terkadang istrinya yang orang belanda memanggilku hanya untuk mengajakku bicara dengna suaminya tentang Indonesia. Dia kangen banget sama indonesia, tapi sudah tidak boleh terbang ke Indonesia karena kondisi kesehatannya. Dia senang sekali ngobrol denganku. Tapi akunya yang jadi nggak enak meninggalkan pekerjaanku, masa teman-teman kerja keras di dapur aku cuma nemenin tamu ngobrol? Serba salah. Selain itu, pernah juga aku diundang makan bersama seorang dokter yang bertugas disitu, ehh ternyata si Pak Dokter orang Indonesia juga, tapi sudah Warga Negara Belanda. Hebat ya orang Indonesia!

Bercerita tentang tamu kapal ini, tersentuh kadang melihat mereka yang sudah tua, yang dipapah, atau yang didorong dengan kursi roda, atau bahkan cuma tiduran di bed. Ada yang berkursi roda dan masih memakai selang oksigen. Betapa hidup cuma sebentar, dan suatu saat mungkin orang tua atua bahkan kita sendiri akan menjadi seperti mereka, tak berdaya. Uuh jadi sedih…

Aih daripada nangis terharu, tiba-tiba pandangan mataku menabrak sosok itu. Hey itu kan cowo yang kemarin aku lihat sedang membersihkan kapal. Yaoloo ternyata dia bukan tukang bersih-bersih, melainkan salah satu crew kapal, uhh keren apalagi kalo pake seragam Popeye-nya… (sori ya gak di upload potonya, konsumsi pribadi, wkwkwk…) lumayan, ada yang bikin semangat mejeng di restoran, hehehe…

Setelah melayani sarapan yang berlangsung hingga sekitar jam 10, dilanjutkan dengan evaluasi tim restoran bersama kepala Chef. Aku anak bawang aja, soalnya mereka rapat dalam bahasa Belanda. Baru terakhir kepala Chef akan menanyaiku tentang menu untuk malam itu, dan biasanya akan mencatat dietku. Misalnya no pork, no beef, atau fish only. Kemudian istirahat sebentar liat-liat pemandangan sungai yang indah. Kapan lagi kan ngeliat daerah sungai, rumah-rumah asri yang berjajar di sebelah sungai, uhh keren dan yang pasti daerah itu tidak akan terlihat ketika hanya kita hanya jalan-jalan dengan kereta atau bis. Kapan lagi menyusuri bawah jembatan Rotterdam yang unik. Pemandangannya asik banget. Istirahat gak bisa lama-lama, harus segera siap-siap untuk melayani tamu makan siang.

Makan siangnya orang Belanda tidak berbeda jauh dengan sarapan paginya. Roti-roti juga, paling ditambah dengan sup atau sosis. Itu yang membuatku stress. Aku lapar saudara-saudara!!! Tapi ya gak ada apa-apa untuk makan siang. Sampai kadang aku ngambil telur rebus dobel pada waktu sarapan untuk kumakan lagi pada waktu makan siang. Tau sendiri perut orang Indonesia, eneggg kalo makan roti terus. Selama 6 hari pelayaran itu, aku kerotian (alias kebanyakan makan roti), tak melihat sebutir nasi pun, hiks… how much I miss you, rice…😦

Oh ya, balik ke cerita kesibukan kerja. Sekitar jam 2, pekerjaan restoran selesai. Barulah aku bisa istirahat di kabin. Biasanya kuisi dengan tidur siang. Mempersiapkan badan untuk kerja yang paling berat, dinner. Kalau tidak terlalu cape, aku bisa ikut penumpang turun ke daratan, berjalan-jalan di daerah indah ditepian sungai untuk refreshing. Ehh pernah tuh ketemu stand Snack Asia aku senenggg banget…Akhirnya nemu makanan ndeso.. Aku beli shrimp lumpia kalo gak salah waktu itu.. hmm yummyy banget…!!

Priiiittt! Kalau sudah jam 5 teng aku cepat-cepat kembali ke restoran untuk bekerja mempersiapkan makan malam yang biasanya diisi dengan makanan-makanan ala Italia atau Belanda atau Negara Eropa lainnya. Dari menata meja hingga mengepel dapur, mengeluarkan makanan berkali-kali, tau sendiri dinnernya bule gimana, dari appetizer sampai dessert itu berjam-jam. Pekerjaan baru selesai hampir jam 10 malam. Habis itu aku “pingsan”dikamar. Benar-benar kerja rodi!

Berat sih kerjanya, tapi aku jadi enjoy dengan kebersamaan kami sesama anggota tim, dan juga orang-orang di kapal itu yang kemudian menjadi sangat ramah padaku. Pada malam perpisahan, kami bernyanyi dan dance bersama. Aku perhatikan orang-orang tua ini, mereka tertawa bahagia, baik yang di kursi roda atau bahkan yang hanya tertidur diatas bed. Aku merasa senang sekali menjadi bagian dari malam itu. Ulang tahunku sudah kulewatkan dengan pengalaman yang super istimewa.

Aku sedang duduk santai menikmati suasana, tiba-tiba seseorang berjongkok disampingku, aiihh ternyata si Popeye yang ganteng. Dia bertanya dengan wajah penasaran, kenapa kamu ada disini?  wew… kan jadi klepek-klepek eike… Kemudian jadi ngobrol seru, dia mentraktirku minum, dan terakhir kami dance bersama semua orang disitu. Ahhh malam penutup yang indah. Serasa napak tilas Cinderella, dari upik abu berubah jadi sang Putri, uhuuii😀

3 thoughts on “Cinderella di Kapal Henry Dunant (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s