Cinderella di Kapal Henry Dunant (1)

This is my most ababil experience. Back to 2011, in Holland.

Waktu itu menjelang ulang tahunku di bulan Februari. Aha, aku pikir jarang-jarang aku ulang tahun di Eropa. Aku harus melakukan sesuatu yang istimewa. Dengan menggebu-gebu, aku menyampaikan keinginanku untuk menjadi relawan di sebuah kapal milik Palang Merah Belanda, namanya Kapal Henry Dunant. Kebetulan sebagai relawan PMI yang sedang kuliah di Belanda, aku punya kolega di kantor Palang Merah Belanda. Cucoklah pokoknya, setelah di-approach sama kolegaku itu, aku berhasil mendapat jadwal berangkat tepat satu hari setelah ulang tahunku, tanggal 14 februari. Aku hepi banget, cita-citaku untuk berlayar dengan Kapal J. Henry Dunant akan segera terkabul.

Pelayaran dijadwalkan 6 hari, dari tanggal 14 hingga 19 Februari. Aku sempat bingung dengan kelas kuliahku, bagaimana cara izin yang mujarab? Gak enak nih sama Convener (semacam istilah untuk dekan gitu) mau bolos seminggu. Ahaa! Aku ada ide!!  Kan itu pas mau Valentinan di kampusku, teman-teman dari student committee jualan bunga untuk amal dan akan mengirimkannya ke pigeon hall atau kotak surat orang yang mau dikirimi. Kubeli beberapa bunga untuk sahabat-sahabatku, dan satu bunga untuk convenerku. Kuselipkan kertas ucapan berisi rayuan gombal, kemudian aku memelas minta ijin bolos untuk jadi volunteer di Kapal Red Cross. Tanpa menunggu jawaban, keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika hari masih gelap aku telah berangkat menuju geladak kapal itu.

Dengan susah payah, setelah menggunakan GPS di BB dan bertanya pada banyak orang, akhirnya aku menemukan kapal itu. Oohh aku sangat bahagia. Kapal besar yang menjadi impianku selama ini. Kapal Henry Dunant adalah kapal pelayanan Palang Merah Belanda untuk membawa orang tua atau sakit jalan-jalan di sungai di Belanda atau Jerman. Tau kan ya, kalau orang tua di negara-negara maju umumnya tinggal sendiri, kalau dalam keadaan sakit mungkin dengan perawat saja. Karenanya Red Cross sebagai organisasi yang peduli kemanusiaan, menyediakan kapal Henry Dunant sebagai kapal pesiar bagi mereka yang sudah lanjut usia ini, untuk memberikan mereka waktu keluar dari rutinitas duduk dalam kamar mereka, dan menikmati keindahan negeri mereka dengan tetap memperhatikan perawatan kesehatannya. Masing-masing mereka dilayani oleh relawan, kemudian beberapa pasien itu dijaga oleh satu nurse. Nah kalau ada masalah, dokter juga ada, dan kalau terjadi sesuatu yang memaksa tamu harus pulang ke rumah sakit, ambulans Red Cross akan siap sedia menjemput tamu di pemberhentian-pemberhentian terdekat. Mantapp!

Celingak-celinguk aku naik ke kapal dengan membawa surat yang menjelaskan bahwa aku telah diterima sebagai relawan. Kulihat seorang cowok diluar sedang membersihkan kapal, ssttt… tukang bersih-bersihnya cakep sist! Aku masuk dan menemui seorang perempuan paruh baya yang juga sedang dikelilingi banyak orang, sepertinya dia orang penting di pelayaran ini, mungkin koordinator relawan. Aku menunjukkan suratku. Dia menanyaiku beberapa hal, yang sukses kujawab dengan membuatnya kesel. Abis dia nanya dalam bahasa Belanda, aku jawab dalam bahasa Inggris, hehehe… Dia stress, aku yakin dia shock karena baru kali ini ada orang gak bisa bahasa Belanda nekad jadi relawan. Aku jadi nggak enak. Dengan wajah yang sebel, kemudian dia memanggil seorang Bapak, mungkin Kapten atau asisten Kapten, yang ajaibnya bertubuh pendek dibanding bule-bule lain (curiga gw, kayaknya tu bapak ada turunan Indonesia deh), dan syukurnya dia bisa berbahasa Inggris. Bapak itu ramah berbicara denganku, mencari namaku dalam daftar, kemudian memberiku pin relawan.

Beberapa saat sebelum pembukaan, aku punya waktu untuk mengamati kapal ini. Kapal yang bertingkat-tingkat, ada restorannya, ada lift nya, banyak kursi roda, dan kemudian aku masuk ke kabinku. Sebuah kamar kecil berisi 3 tempat tidur, yang satu bertingkat. Ada kamar mandi dan toilet dalam kabin itu. Aku beristirahat sebentar di kabin sambil upload foto kapal ke teman-temanku di Facebook, exist teteup, pamer kalo aku sudah sampai di kapal dan siap berlayar!! hohoho…

Setelah itu pembukaan. Semua relawan berkumpul dalam ruang besar. Aku perhatikan mereka, waduh bule semua. Tuwir-tuwir lagi. Gak ada yang kenal satupun. Mereka ribut ngomong dalam bahasa Belanda. Aku duduk sendirian cengangas-cengenges ra ono koncone. Bapak tadi yang membuka, beliau presentasi tentang Kapal J. Henry Dunant dan tugas-tugas relawan. Aku pikir dia akan ngomong dua bahasa, oh ternyata tidak, Dutch only😦 Roaming pliizzz!!! Semua orang tertawa, aku tidak. Eh ketawa ding akhirnya, maksa. Huaaa aku gak ngerti apa yang mereka bicarain.  Tiba-tiba aku nyesal gak bisa bahasa Belanda.. Aku merasa seperti alien.. hiks..

Setelah pembukaan, kemudian Bapak itu membawaku ke lantai bawah. Aku mengikuti Bapak itu sambil bertanya-tanya dalam hati mengenai tugasku.  Kami melewati lorong-lorong panjang di kapal, kemudian memasuki sebuah ruangan kecil penuh dengan kain. Nah, kata Bapak itu, ini kerjaanmu. Nyuci linen dan bersihin toilet seluruh penumpang (OMG! Gak ada yang lebih berat apa Pak kerjaannya?). Dan ini teman kerjamu katanya mengenalkanku dengan seorang Ibu tua. Berdua doang ngerjain segitu berat?? Dia berbicara dengan ibu itu dalam bahasa belanda kemudian dia pamit, meninggalkanku dengan senyum manisnya. Wadduhh gubrag dot kom ini! Kulihat ibu tua itu, wajahnya kurang ramah. Dia sudah mulai bekerja dan kurang memperdulikanku. Aku mencoba mengajaknya ngomong, arrghh lagi-lagi roaming. Dia gak bisa bahasa Inggris, hiks… aku mesti gimana ini, aku kayak anak ilang nggak ngerti mesti ngapain. Terpaksalah aku hanya pura-pura memperhatikan sekeliling dan caranya bekerja. Beberapa menit kemudian dia ngomel kemudian meninggalkanku. Huuaa.. ini nih akibat jadi orang ababil. Sumpah ni hari yang paling gak enak, most alienated ever!

Aku meringkuk kusut dalam ruangan kecil sumpek itu sendiri, galau tingkat tinggi. Membayangkan kasur dan internet, dua kenikmatan duniawi yang kutinggalkan. Huuh, seandainya aku nggak nekad kesini. Pasti aku sedang males-malesan di kasurku sambil utak atik internet. Kemudian pergi bersepeda ke kampus untuk melihat berapa bunga mawar yang masuk ke pigeon hall ku. Siapa tau ada bunga dari secret admirer. Mengkhayal kemana-mana.

Eeh tiba-tiba Bapak tadi balik lagi. Ngapain dia, mau nyuruh gw nyuci toilet?? Hayo, ikut saya ke atas, katanya. Ups, ada apa ini.. Kok naik ke atas lagi.. Oke deh, aku dengan senang hati mengikutinya. Sesampainya di lantai atas, di ruangan restoran, aku diperkenalkan dengan dua orang Ibu. Ternyata, seorang ibu yang bertugas di restoran mau menggantikan posisiku dibawah, alias kerja di toilet. Nah kemudian seorang ibu lainnya yang cantik, ramah, dan bisa berbahasa Inggris, dia memperkenalkan diri dan mengatakan akan menjadi mentorku di bagian restoran ini..

Akhirnyaa… Aku tersenyum lebar. Dalam sekejap penderitaanku berakhir. Aku naik pangkat, dari petugas toilet ke restoran, hehehe…

Nih poto-potonya pas in action. Btw, kain seragamnya kepanjangan untukku yang pendek, jadi aku mesti lipat-lipat banyak dulu sebelum mengikatkannya dipinggangku🙂

(bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s