Nyasar di Masjid Ahmadiyah

Dengan perut lumayan terisi, kami melanjutkan perjalanan. Bertemu dengan beberapa orang dijalan, mereka memberikan arah ke masjid. Tapi kok jawabnya kayak agak bingung. Kami jadi tambah bingung deh. Lain-lain jawabannya. Ada yg bilang jauh, ada yg bilang deket. Ada yang memperhatikan dulu kami baik-baik baru menjawab. Ada yang nanyain dulu, mau ke masjid mana? Lah, ini apa sihh, mau sholat aja ribet banget??! Trus kami masuk toko yang berbau arab, cuma untuk bertanya, masjidnya dimana. Si pemilik memberikan petunjuk, belok sana belok sini. Uh pusing… kalo waktu itu udah jaman Ayu Ting-ting, pasti aku dah nyanyi, Dimana.. dimana.. dimana… hehehe

Masjidnya cakep ya🙂

Akhirnya kami melihat kubah itu. Horeeee Alhamdulillah. Seneng banget walaupun nggak seperti bayangan kami tentang Masjid London. Kan harusnya gede kayak masjid Istiqlal, paling ngga gitu kan, ini kok kayak pesantren. Kami kedepan pagarnya. Ketat banget, dikunci dan ada penjaganya disana. Mereka bertampang arab-arab gitu, bukan bule. Shollu.. shollu, kata si Kakak pake bahasa Arab sekedarnya. Mereka memperhatikan kami lagi dengan ragu. Jamaah apa, katanya. Hah? Kok? Ada yang aneh, pikirku. Kemudian Kakak bilang kami musafir. Setelah mereka berdiskusi, akhirnya mereka perbolehkan kami masuk.

Bangunan masjid dan sekitarnya tampak indah dengan banyak hiasan bunga, bersih dan rapi. Ya ampun masjidnya mungil banget tapi cantik, kayak aku gitu deh… (yang gak rela silakan out, hahaha).

Sambil ditunjukkan jalan menuju ruang wudhu, aku memperhatikan sekitar. Aku lihat laki-laki yang menunjukkan jalan, lalu teman-temannya yang lain. Mereka serius sekali. Masa di lingkungan masjid aja berkomunikasi pake HT, trus pake baju hitam-hitam kayak satgas. Kemudian terbaca olehku tulisan di dinding bangunan, bla bla bla AHMADIYYA… bangunan masjid pertama di London… Glek!! Pantesaaaannn…

Sampai di tempat wudhu, kami berwudhu di dalam tempat itu. Merasa sudah aman, aku bisikin si Kakak, Kak, ini masjid Ahmadiyah.. Kakak diam-diam aja, entah apa yang dipikirkannya, padahal aku begitu excited. Begitu kami keluar, si satgas tadi cepat-cepat masuk ke dalam, ngecek gitu. Yaelah, dikira kami mau naro bom apa? Gila ya, gak di Indonesia, gak di London, kayaknya antara yang Sunni dengan Ahmadiyah gak akur.

Begitu mau masuk masjid, kakak sudah duluan. Di muka pintu jalur perempuan itu aku berpapasan dengan seorang perempuan paruh baya. Dia memperkenalkan diri sebagai istri Amir disitu. Dia bertanya asalku, kemudian memelukku dengan hangat. Dia memuji Indonesia.

Ibu Presiden kalian beberapa tahun lalu kesini, katanya. Wahh hebat juga Ibu Mega sudah kesini, pikirku.

Bagaimana kabarnya Ibu Presiden?Titip salam ya sama dia. Katanya lagi. Heh, kayak gue kenal dekat aja ma Presiden.

Baik-baik aja Bu, kataku sambil bingung. Dia terus berceloteh tentang ibu presiden Indonesia yang datang kesitu dan tampaknya sangat terkesan dengan masjid itu.  Aku jadi bingung, ini siapa sih yang dimaksud.

Ibu Megawati kan Bu, tanyaku.

Bukan.. katanya. Lah, perasaan presiden perempuan cuma satu. Terus siapa dong, jadi tambah bingung. Istrinya SBY? Dia bilang bukan juga. 

Kartini, dia suka sekali disini. Gubraggg.. siapa pula itu Kartini.

(Sampai sekarang aku berpikir bahwa mungkin Kartini adalah nama pemimpin perempuan jamaah Ahmadiyah di Indonesia, ada yang tau gak sih?)

Karena bingung, kemudian aku cepat-cepat pamit untuk sholat. Beliau mempersilakanku. Didalam masjid aku perhatikan, masjid ini biasa saja. Peraturan yang tertempel di dinding masjid juga biasa, tentnag HP yang harus dimatikan. Cara sholatnya pun aku yakin sama. Tapi kejadian hari ini, salah masuk masjid yang membuat mereka mencurigai kami, obrolan dengan ibu tadi, menggelitikku. Ada juga rasa khawatir ketika keluar nanti kami diperlakukan tidak baik, karena kami bukan jamaahnya. Aku berdoa agar Allah melindungi kami. Jangan sampe kami gak balik, ya Allah..

Kalo gak salah, jadi ternyata Masjid London adalah Masjid Ahmadiyah. Disebut Masjid London karena pertama kali dibangun di London.

Alhamdulillah, begitu keluar, mereka tampak lebih rileks. Mereka sudah yakin bahwa kami datang cuma untuk numpang sholat, bukan buat ngebom, hehehe… Kami menyempatkan diri berfoto didepan masjidnya dan mereka tertawa senang. Bahkan kami diantar sampai depan pagar sambil diberi tahu jalan pulang ke halte bus.

Wiihh lega.. pengalaman pertama masuk Masjid Ahmadiyah, mendebarkan, dan gak tanggung-tanggung, di LONDON, haha.. Peace Bro!!

9 thoughts on “Nyasar di Masjid Ahmadiyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s