Party di Berlin

Naah.. kali  ini cerita tentang cowok. Aku punya seorang teman cowok berkebangsaan India. Sebut saja namanya Sanjay. Dia teman hangoutku di akhir minggu. Kami sering nonton film-film terbaru di Pathe (bioskop terkenal di Belanda), jalan, badminton, dan minum bersama. Favoritnya cappuccino, sementara aku warme chocolademelk met slagroom alias cokelat panas dengan krim.

Dia seorang laki-laki yang cukup aneh menurutku, dengan kualitas fisik dan finansial yang dia miliki, dia nggak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada cewek cantik seksi nan bergaya. Padahal dia bisa saja dapat cewek dengan mudah kalau dia mau. Jangan berpikir dia gay, dia bahkan sering menunjukkan ketidaksukaannya pada kelompok-kelompok LGBT yang sering berkoar-koar di Belanda tentang identitasnya.

Dia pernah punya pacar, seorang cewek Amerika, namun kemudian kandas. Mungkin dari pengalaman itu, dia menjadi sangat hati-hati dengan sebuah hubungan. Katanya dia menyukai cewek-cewek sederhana, yang cukup konservatif (gak merokok atau minum, seperti dia juga), yang tidak punya potensi untuk mendictatenya, dan cantik itu nomor kesekian baginya. Jujur saja, aku sempat ge-er karena merasa aku ada pada golongan cewek yang disukainya itu, hehehe…

Suatu pagi di musim gugur, kami sepakat untuk berlibur ke Berlin. Aku belum pernah kesana. Sementara Sanjay sudah pernah kesana dan menyukai Berlin. Dia tidak keberatan untuk pergi denganku kesana. Aku mulai booking sana-sini. Dia menyerahkan urusan pencarian padaku karena dia sedang sangat sibuk-sibuknya di kantor. Hmm, tentu saja dengan budget student kalau denganku. Aku booking bis Eurolines pp Den Haag-Berlin. Kemudian hostel. Hmm.. tapi aku gak tega untuk mengajaknya ke hostel. Dia biasa tidur di hotel berbintang. Okelah, aku cari hotel yang paling murah. Gak apa-apa hotel ecek-ecek, asal gak esek-esek, hehehe… Kupesankan kamar yang paling mahal untuknya (yang ada disitu masih lebih murah 3x lipat dibanding harga kamar standar di Hotel Ibis), dan kamar agak murah untukku. Yang penting kami bisa dapat kamar sendiri-sendiri. Sanjay yang memesan hotel itu akhirnya karena aku nggak punya kartu kredit.

Sebelum berangkat ke Berlin, kami sepakat akan mencari tempat party disana. Party apa, katanya. Party yang romantis, kataku menggodanya. Oke, party dengan alunan musik khas Jerman, katanya membalas pesan Whatsappku. Berbekal kesepakatan tersebut, terpaksa aku menambah beban tasku. Satu ransel dan satu tas tangan besar berwarna pink bunga-bunga. Didalamnya aku membawa sepatu high heel (cuma 3 cm tp tetep aja high heel buatku yang biasa pakai sepatu teplek) dan baju party ikut bersamaku ke Berlin. Kami berangkat di malam hari dan tiba keesokan paginya.

Suasana didalam Stasiun Berlin Hauftbahnhof

Setelah dari terminal bus, tibalah kami di Berlin Hauftbahnhof, stasiun paling modern di Eropa. Kuhitung lantainya, paling tidak ada 5. Bayangin aja kalau stasiun gambir ada 5 lantai! Plus dengan pertokoan mewah dikanan-kiri, escalator dan lift tabung kaca, Berlin Hauftbahnhof tampak seperti mall yang berisi stasiun.

Dari sana, kami singgah di satu stasiun yang lain sebelum sampai ke stasiun dekat hotel kami. Di dinding peron yang ada di setiap stasiun, tergambar cerita dan foto-foto sejarah Jerman di masa lalu. Sanjay bertindak seperti guru sejarah. Dia menjelaskan padaku dengan semangat, wah tentu saja aku senang sekali bisa belajar sejarah gratis :p

Kami menikmati weekend kami di Berlin. Setiap sudut kota Berlin, terutama pada icon-icon kota dihiasi lampu yang membuat kota ini semakin hidup. Kerenn banget…

The Dome Cathedral during Festival of Lights, October 2011

Setelah mengeksplor kota pada hari kedua, kami sepakat untuk mencari tempat party. Sanjay menanyai beberapa orang tentang lokasi party di Berlin. Kulihat dia mencoret-coret peta yang dipegangnya. Malam itu kami pulang awal ke hotel. Aku cuci muka, dandan, ganti baju, dan terakhir memakai legging, coat, dan sepatu high heelku yang sempit karena masih baru. Ketika aku turun ke bawah, kulihat Sanjay sudah siap.

Kami pun berangkat. Berjalan dengan high heel sempit ini benar-benar menyiksaku, tapi ya mau gimana lagi. Masa party pake sepatu kets. Ditengah jalan kami makan malam terlebih dahulu. Lalu melanjutkan perjalanan dengan metro. Tempatnya jauh, kami yang awalnya ceria sampai kehabisan bahan omongan. Sanjay menguap berkali-kali. Kami turun di stasiun terakhir. Kayak di Berlin coret gitu deh. Aku berjalan mengikutinya. Banyak pemuda minum-minum di sepanjang jalan. Ramai sekali orang ini, pikirku. Aku gandeng tangan si Sanjay karena agak takut melihat orang-orang mabuk.  Kami berjalan mengikuti kerumunan orang ramai, terus berjalan berusaha menemukan tempat party yang layak, kadang mengikuti arus orang tersebut. Tapi semakin jauh kami berjalan, daerah semakin gelap, belum ada tanda-tanda kehidupan party. Eng ing eng… Dalam situasi yang tampak kurang kondusif itu, Sanjay memutuskan sesuatu. Kita pulang saja, mending tidur, katanya. Huaaa aku kecewa!!

Didalam kereta pulang menuju hotel, aku diam saja. Pengamen datang dan bermain alat musik, anak-anak muda di kereta itu langsung ikut nge-dance sambil minum. Aku tersenyum sedikit. Paling tidak aku sebentar merasakan atmosfir party. Aku memalingkan wajahku dari si Sanjay. Bete abis. Udah jauh-jauh jalan malah batal. Bukannya nyari tempat lain, dia malah mau tidur, omelku dalam hati. Sanjay merasakan perubahanku. Dia menanyai kalau aku kecewa. Aku nggak menjawab. Hingga kami turun dari kereta dan berjalan menuju hotel kami, aku tetap diam.

It’s okay to say if you feel angry, katanya. Aku hanya diam, menggeleng, untuk menyembunyikan perasaanku. Tempatnya nggak aman, daripada terjadi apa-apa, mending kita pulang. Aku hanya mencegah sesuatu yang buruk, katanya menjelaskan. Aku malah jadi pengen nangis…

Eh Njay, tau gak sih, aku tuh bukannya cuma kecewa kita gak jadi party. Kamu ngerti gak sih kalau kakiku sakit?? High heelnya sempit, jalannya udah jauh.. Masa pengorbananku sia-sia. Aku demo dalam hati. Tetep manyun. (halah, cewek banget ya, mana mungkin dia tau kalau aku nggak bilang:)

Malam itu aku nggak bisa tidur awal, sedih banget. Keesokan paginya saat aku masih tidur, telpon di kamarku berdering. Hahay tumben, Sanjay membangunkanku. “Hello, good morning. How are you?”, katanya lembut. “hm.. fine.. baru bangun”, jawabku lemes sambil menguap-nguap. Hari itu sebelum pulang, he treated me well. Dia bawa aku ke tempat-tempat yang ingin kukunjungi, misalnya ke Garden of the World yang letaknya cukup jauh, disitu ada miniatur kebun ala Roma, Jepang, Korea, hingga Bali! Sorenya, dia membelikanku tiket masuk Dom Cathedral, wow.. pengalaman yang luar biasa diatas sana. Pemandangannya baguuss.. Dan eh eh, liat, ada yang mengukir love dibawah, katanya🙂

This what he showed me🙂 Pemandangan dari atas dekat kubah the Dome Cathedral

4 thoughts on “Party di Berlin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s