Didatangi Bulan di Istanbul (2)

Dengan obsesi menikmati hamam di Turki, kuamati brosur lux itu, yang memasang gambar cewek-cewek cantik sedang menikmati hamam didalam bangunan berarsitektur megah berusia beratus-ratus tahun. Tapi kok rasanya mahal banget, sekitar 600 ribuan untuk satu paket mandi hingga pijat. Hmm apalagi dalam keadaan sedang haid, masa mau mandi bersama di kolam air panasnya, gak mungkin..

Kumasuki tempat bernama Camberlitas itu, sebuah tempat hamam terkenal di Istanbul. Kutanya mbak-mbaknya yang kebetulan berwajah oriental, kalau-kalau aku bisa ambil paket sauna dan atau pijat saja tanpa mandi dengan harga diskon? Tidak bisa, harga paket, katanya jutek. Fyuhh terpaksa aku keluar.

Aku pergi lagi ke tempat hamam lain di pusat kota itu juga, aku lupa namanya. Begitu masuk, hawa panas menyeruak. Aku lihat laki-laki perempuan bercampur. Seorang laki-laki mempersilakanku masuk. Aku langsung ilfil dengan bau keringat atau entah apalah. Setelah bertanya tentang harga, aku buru-buru keluar dan meninggalkan Turkish bath tersebut. Huekk…

Duh, masa aku gagal? Gak, aku gak akan menyerah sampai titik darah penghabisan. Malam terakhir sebelum pulang, aku nekad akan mencari Galatasaray Hamami, sebuah tempat hamam yang direkomendasikan seorang teman Turki ku di ISS. Malam sebelumnya aku juga sudah berusaha mencarinya bersama temanku tapi nggak ketemu. Jadi malam itu aku nekad jalan sendiri untuk menemukan tempat itu.

Aku naik tram dan memulai perjalananku. Turun dari tram, aku berjalan. Cukup jauh, jalan yang menanjak, turun naik. Sebenarnya aku agak ngeri dengan daerahnya, bukan di tempat keramaian.  Aku bingung, kucoba bertanya pada orang yang berjualan di restoran, dan alangkah mengejutkannya, dia tidak mau menjawab kalau aku tidak makan disitu. Ya ampun, ini muslim apaan ya. Mencoba bersabar, aku terus berjalan mengikuti peta. Bukan peta yang baik tentunya hingga aku kebingungan.

Kutemukan sebuah Turkish bath yang lain, aku coba masuk menuruni tangga. Begitu didalam, aiihh, semua laki-laki pake handuk-handuk. Hiiyy… tapi karena gak mungkin berlari, terpaksa aku berani-beraniin diri bertanya, apa disini ada Turkish bath untuk perempuan? Kemudian seorang bapak menjelaskan waktu untuk perempuan dibawah jam sekian, laki-laki jam sekian keatas. Oke, terimakasih, kataku bergegas keluar. Hufft.. ngeri, cewek sendirian masuk ke kandang harimau.

Aku terus berjalan sambil berdoa. Lebih dekat sesuai peta. Aku menemukan pusat keramaian lain. Aku sempat mengabadikan keramaian itu dengan kameraku, kemudian terus berjalan mendekati sasaran. Hingga akhirnya.. owwhh itu diaa… dari jauh aku melihat plang nama bangunan itu.. GALATASARAY! Alhamdulillah.. mudah-mudahan masih ada rejekiku untuk hamam malam ini. Segera aku masuk ke dalamnya. Oohh noooo laki-laki lagi!! Setelah aku bertanya, seorang bapak memberitahuku kalau untuk perempuan di bagian lain, tutup jam 8 katanya. Kulihat jamku, oh belum jam setengah 8. Bergegas aku menuju bagian belakang dari bangunan itu. Nah, ini nih. Aku masuk melewati pintu dan tangga. Suasana yang homey. Aku lihat beberapa perempuan paruh baya duduk-duduk disana. Aku berikan salam, dan mengatakan kalau aku ingin hamam. Tau apa jawabannya?

Nggak bisa, sudah tutup! Jam 8 tutup. (Lah tapi aku kan datang sebelum jam setengah 8..)

Aku coba membujuknya, pijat saja, kataku.

Tidak bisa! Besok saja datang lagi, katanya.

Damn! Besok aku pulaaang, rutukku dalam hati.

Arrghhh.. gara-gara haid di Istanbull.. gagal impianku bisa hamam… huaaaaa!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s