Didatangi Bulan di Istanbul (1)

Cewek-cewek sering bermasalah dengan telat datang bulan. Tapi ada saat-saat dimana si bulan menjadi hal yang sangat menjengkelkan. Paling tidak ada 3 masa dimana perempuan sangat tidak menginginkan si bulan. Satu, pada saat menunaikan ibadah haji. Kebayang gak, mereka yang melakukan haji dengan paket ONH Plus, artinya perjalanan yang lebih nyaman, namun singkat. Biasanya cuma 2 minggu. Cocok untuk orang-orang sibuk. Nah, gimana bisa beribadah dengan optimal kalo yang 1 minggunya si bulan mampir?  Kedua, pada saat berada di Istanbul, Turki. Disana kemasyhuran Blue Mosque menggodamu untuk sholat didalamnya, dan tradisi mandi yang dikenal dengan hamam memanggilmu untuk menikmatinya. Argh! Sebentar lagi kuceritakan pengalamanku haid di Istanbul. Ketiga, pada saat malam pertama. Semua pasti ngerti kan kenapa cewek gak pengen datang bulan di malam pertama? Soalnya ntar digetok ma suaminya :p

Singkat cerita, sebelum pulang ke tanah air, aku ingin menutup perjalananku di Eropa dengan mendatangi Turki, sebuah Negara yang berada di dua benua, Asia dan Eropa. Konon, negeri itu begitu indah dan percampuran budaya dua benua menjadi daya tarik yang luar biasa. Dengan tiket pulang pergi 150 euro (atau setara dengan 1,75 juta rupiah) Amsterdam-Istanbul, aku dan seorang teman baikku nekad kesana pada hari H-4 hingga H-1 wisuda Master kami. Sebelum pergi, aku sudah melakukan riset singkat tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi dalam waktu 2 hari diluar perjalanan. Blue Mosque dan Aya Sofya masuk dalam daftar “Belom kesini kalo lu gak liat ini”, Topkapi Palace dan Haremnya masuk dalam daftar “Recommended, Harus dikunjungi”, Tahrir Square masuk dalam daftar “Tanggung amat kalo kesini gak kesini”, dan Hamam masuk dalam daftar “Nyesel lu kalo gak nyoba”. Semua tempat yang kusebutkan tadi plus mencoba hamam adalah target operasiku di Turki. Sekere apapun, aku harus kesana.

Dengan senyum lebar aku menikmati malam kedatanganku di Istanbul. Dari airport Sabiha Gokcen yang berada di bagian Asia menuju hotel kami di daerah Sultan Ahmet yang berada di Eropa. Taxi (yang berbentuk van) melaju memamerkan jalan turun naik di Turki, jembatan-jembatan dan sungainya yang besar, rumah dan bangunan lain di sekeliling sungai hingga ke bukit-bukit memancarkan cahaya lampu yang gemerlap, aku suka.. rasanya fresh sekali melihat pemandangan ini, mencairkan kebosananku dengan suasana di Eropa. Patung dan cathedral sudah cukup bagiku. Aku rindu suasana yang berbeda, seperti kubah-kubah masjid yang bertaburan di Turki ini.

Sesampainya di hotel. Oh Noooo!!! Aku dapettt… gimana mau ke hamam nih? Kan itu cita-citaku dari dulu sejak baca buku the Naked Traveler… hamam itu yang ada dalam bayanganku setelah baca buku  Trinity itu adalah sebuah tempat pemandian khas Turki. mandinya rame-rame di kolam air panas, kemudian ada marmer panas, sauna dan pijatnya. Kata Trinity, kebanyakan orangnya bugil, karena kan dipisah cewek cowoknya. Dan kata artikel-artikel perjalanan yang kubaca, hamam itu enaaakkk banget. Masa harus kulewatkan?? Seumur hidup belum tentu balik lagi ke Turki. Aku ngomel-ngomel sendiri, duh bulan, kamu datang pada saat tidak tepat. Temanku menghiburku, besok pergi aja, sebelum banyak, katanya.

Keesokan harinya kami memulai perjalanan kami ke atraksi terdekat dari hotel kami. Berjarak kurang lebih 500 meter, wauww… Blue Mosque!!! Pertanyaan pertama: kok nggak blue ya? Tapi tetep aja takjub. Gedee… Berjalan-jalan dan berpoto-poto menikmati keindahan arsitektur masjid, kemudian suara azan memanggil. Subhanallah… rindunya ingin sholat di Masjid. Temanku segera ambil wudhu dan masuk ke dalam Masjid. Aku memperhatikan beberapa orang security melarang wisatawan yang non-muslim masuk dan menyuruh mereka kembali setelah jam sholat.  Aku yang tadinya sibuk merekam dengan handycam tiba-tiba tidak tahan ingin masuk ke dalam. Aku ingin melewati daun pintu yang bentuknya seperti kain diangkat keatas itu. Lalu bergegas ku bungkus sepatuku dengan plastik yang telah tersedia. Aku tersenyum menunduk di bawah pintu, masuk ke dalam.

Kuletakkan sepatuku di rak sepatu. Dibelakang rak sepatu aku duduk disisi kiri, bersama beberapa ibu-ibu bertubuh lebar ke depan dan kebelakang. Kuamati birunya bagian dalam masjid yang mempersona. Ohh mungkin dikatakan blue mosque karena interiornya yang berwarna dominan biru. Lalu kulihat didepan rak sepatu, dua petugas security perempuan berjalan bolak balik mengawasi dengan mata tajam. Aku terkesiap. Tiba-tiba aku khawatir akan diusir keluar kalau ketahuan sedang haid. Aku lirik ke sisi kanan, ketemukan temanku duduk disana. Pelan-pelan aku pindah mendekatinya. Dia tertawa bahagia, gembira karena bisa sholat di Blue mosque yang sudah lama diimpikannya. Terdengar suara iqomah.

Aku mau pura-pura sholat, kataku berbisik pada temanku. Hah?? Dia kaget. Ya, aku mau akting aja, soalnya ada penjaga didepan. Kayaknya galak, ntar dimarahin lagi kalo gak sholat. Aku mencari posisi yang membelakangi tiang. Sayangnya, pada saat sholat akan dimulai, aku terpaksa menggeser tempat berdiriku. Maafkan aku Ya Allah.. sepanjang sholat aku bukannya baca bacaan sholat, tp minta ampun karena aku cuma pura-pura sholat. Gara-gara mau liat dalam masjid😀

 

(bersambung…)

2 thoughts on “Didatangi Bulan di Istanbul (1)

  1. Saya juga pernah ke mesjid biru nya.. hehehe… sayang banget karena waktunya mepet, saya ga bisa jalan2 seperti mbak febri… Cerita tentang Istanbul juga cuma sedikit di blog saya… Pengen deh jalan kek mbak n cerita2 lebih banyak… hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s