Traveller Haram

Aku begitu excited dengan pengalaman pertamaku ke luar negeri, ke tanah yang di pijak Rasulullah SAW. Berbekal kamera pocket pinjaman dari temanku dan handycam Samsungku, aku rajin melakukan syuting, dari yang legal sampai illegal. Kenapa bisa illegal? Karena terlarang berfoto atau mengambil video di Masjid. Berikut beberapa pengalamanku saat travelling di musim haji😀

Di suatu sore yang nyaman setelah menunaikan Sholat Ashar, orang-orang berkumpul dengan sanak famili duduk-duduk menikmati sore di halaman Masjid. Aku pun terbawa suasana, jiwa fotograferku keluar. Aku mulai jeprat-jepret sana-sini. Saat asik berpoto-poto di halaman masjidil Haram itulah, aku diteriak-teriaki oleh seorang laki-laki tua. Aku bingung setengah mati, aku pikir ada masalah apa? Ya ampyuunn.. ternyata dia memarahiku karena poto-poto didepan masjidil Haram. Entah bener atau cuma halusinasiku saja, seingatku dia bilang haram, haram, gitu. Yaelah Kek… poto doang… emang sih di jaman Rasulullah gak ada kamera, tapi bukan berarti saya mesti ngukir poto saya di batu kan… ck ck ck…

Itu satu cerita yang ekstrim. Nah kalau petugas security di pintu-pintu Masjidil haram, baik yang laki-laki atau perempuan selalu mengadakan pengecekan terhadap barang bawaan kita. Sekedar info, penjaga di Masjidil Haram ini kurang ketat dalam pemeriksaan. Mungkin karena begitu banyak orang hendak masuk kesana. Aku sesekali menyusupkan handycamku dibawah al-Quran dan mukena, nggak pernah ketahuan tuh, hehe.. Tapi saat melakukan syuting juga harus hati-hati karena kalau ketangkep, si penjaga bisa meminta paksa kemudian merusak kaset rekaman atau memory card kita. Aku pernah liat seseorang ketahuan memotret Ka’bah dari lantai atas. Seorang petugas datang dan langsung merampas memory card nya. Wuihh apes tenan.

Namun lain lagi dengan Masjid Nabawi. Penjaga-penjaga yang berdiri di pintu-pintu masjid disana sangat strict dan galak. Padahal atap masjid Nabawi yang bisa terbuka tertutup otomatis menjadi hal yang sangat menarik untuk diabadikan. Belum lagi Raudhah yang katanya adalah suatu tempat paling makbul untuk berdoa. Suatu kali aku ditahan masuk masjid karena handphoneku berkamera (Kebayang gak kalo jaman sekarang, kan hampir semua handphone berkamera, gimana sih..) Nah jadi waktu itu aku diusir, disuruh sholat diluar. Aku kesel, lalu memutar otak. Ahaa.. ada ide!!!

Besoknya aku datang lagi dengan hp nokia jadulku yang gede dan tidak berkamera. HP jadul itu aku letakkan manis dan jelas dalam tas ku. Ketika Mbak-mbak berseragam gelap itu memeriksa tas dan menemukan hpku yang nggak berkamera, kontan dia mempersilakanku masuk. Yihaa, Satu kosong..! hehehe… aku masuk dan mencari tempat sholat. Setelah menemukan posisi aman diatas sajadah tebal nan halus, aku menurunkan sedikit kaos kakiku dan mengeluarkan si mungil berkamera😀

Maaf ya Mbak Mas Arab, bukannya saya ngajarin pembaca buat cara menyusupkan video atau kamera ke dalam Masjid, tapi ya ngapain juga orang poto-poto aja dilarang. Kan buat kenang-kenangan, biar bisa cerita ama orang di kampung, gini lo bentuk Masjidil Haram, gini lho atap Masjid Nabawi yang keren banget, gini lho bedanya suara azan di Masjidil Haram dengan Masjid Nabawi.. banyak orang-orang tua yang belum ada rezeki untuk pergi kesana, mereka senang sekali melihat poto-poto dari tanah suci, sesuatu yang mereka impi-impikan untuk bisa melihatnya suatu hari nanti. Dan buatku sendiri, ya aku kan traveller haram, jalan-jalan sambil naik haji, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s