La Baraque Michel

Desember 2011. Didalam perjalanan kereta dari Volendam menuju Den Haag, sebuah voicemail kuterima. Dari Mr. Paul, seorang kolega dekatku di kantor tempat aku magang. Teringat aku dengan sebuah voicemail lain darinya yang kuterima semalam usai wisuda masterku, sebuah ucapan selamat. Namun karena kelelahan dengan acara wisuda, dinner dengan seorang teman cowo, dan dilanjutkan dengan party ala anak muda, aku belum sempat membalas ucapannya. Kudengarkan sekali lagi voicemailnya, “Hi Nur, congratulation again for your graduation. I promised to you about skiing, do you remember? We can go to Belgium tomorrow if you want. There is a lot of snow this weekend on the mountain. But you have to come early to Bergen op Zoom station where I’ll pick you up. Let me know soon if you agree.”

Aku menghela nafas. Aku sudah berjanji untuk makan siang sekaligus main boardgame di rumah sahabatku besok. Waktuku hanya seminggu di Belanda ini sebelum aku pulang ke tanah air. Aku belum packing. Ditambah lagi, aku sebenarnya gak begitu suka main-main salju ini, aku nggak tahan dingin. Aku ingin menolaknya undangannya, tapi kebaikannya memaksaku mengatakan iya. Apalagi ini kesempatan terakhirku untuk bertemu keluarganya, dan tentu saja, untuk melihat salju. Musim dingin tahun ini di Belanda beda dengan tahun lalu. Tahun ini hanya suhu saja yang drop, ditambah angin kuat yang kadang seperti badai, tapi tidak ada salju. Ya sudahlah, kuputuskan untuk mengatakan iya saja, lantas meminta maaf kepada sahabatku karena terpaksa batal kerumahnya.

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Mandi gak ya? Aku lupa. Kalau musim dingin aku suka malas mandi, hehe.. Setelah bersiap-siap, aku segera pergi dengan tram pertama yang akan membawa ke Centraal Station, dilanjutkan dengan kereta yang mengantarkanku ke Bergen op Zoom, meeting point kami.

Tidak beberapa lama setelah sampai, Paul datang dengan anak perempuannya menjemputku. Kami segera tancap gas ke bagian timur Belgia. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk menuju daerah wintersport tersebut.

Mendekati lokasi, Paul memintaku untuk membantunya dalam navigasi menemukan “La Baraque Michel”, tempat kami akan bermain salju. Apa, Baraque Mitchell?? Aku langsung kepikiran Barrack Obama sama istrinya, Michelle😀

Paul bilang, itu titik tertinggi di Belgia. Owhh… pantesan banyak saljunya.

Kami melalui jalan yang indah, ditepi-tepinya pohon-pohon pinus tinggi yang diselimuti salju, duh, luar biasa.. aku serasa berada di dunia lain.  Semakin tinggi, semakin tebal saljunya, semakin indah.

Akhirnya sampailah kami di lokasi wintersport tersebut. Paul meminjamkan jaket khusus ski kepunyaan anak perempuannya padaku, warna merah, sesuai dengan penutup kepalaku. Juga sepasang kaos kaki special. Tapi dia nggak punya celana khusus untukku. Terpaksa aku pasrah dengan celana jeans ketatku. Semoga saja kakiku nggak membeku, pikirku.

Setelah ganti baju, kami bertiga masuk ke toko penyewaan alat-alat sport. Paul sudah mengatakan padaku kalau kami nggak akan ski, tapi ice walking. Alasannya karena aku belum pernah sama sekali melakukan wintersport, dan dia sendiri baru menjalani operasi bahu beberapa minggu yang lalu. Aku setuju. Paul menyewa tiga set peralatan ice walking. Masing-masing diberi sepasang sepatu datar (seperti beralas kayu), sepasang papan (luncur) dengan panjang kurang dari 1 meter yang tempat menjepit sepatu tadi, dan sepasang stick.

Kami sepakat akan mengambil rute terpendek, 4 km. Nanti kalau suka, kita ambil rute lebih panjang, kata Paul sambil memperlihatkan peta padaku. Aku mengiyakan dengan semangat. Aku merasa keren dengan alat-alat ini terpasang pada tubuhku yang imut. Aku mulai belajar berjalan. Satu langkah, dua langkah.. wihh asik juga.. satu langkah, dua langkah, aku coba meluncur, wiihh… jatoh!

Anne, anaknya Paul, ketawa geli. Busyet.. diketawain anak SMP.. aku bangun lagi, jalan dikit, jalan cepat.. jatuh lagi.. gak sakit sih jatoh di hamparan salju, enak sebenernya.. cuma cape aja jatuh bangun plus diketawain. Aku cengengesan. ingat dengan jarak tadi, walahh 4 km ya??? Gila, baru beberapa langkah meluncur aku udah jatuh.. kapan nyampenya??

Mana dinginnya… buangett… (kebayang gak dinginnya kayak apa? Kalo pengen nyoba, masuk aja ke freezer kulkas :p) OMG! tangan dan kakiku serasa beku. Frostbite kali ya.. Sakit. Aku teringat kasus-kasus amputasi karena frostbite. Hiiyy jangan sampee…

Everything is Okay, Nur? Paul menanyaiku.

Paul, my hands and feet, mm.. frozen.. Is that Okay? kataku memelas. Sebenarnya kalau bisa aku pengen balik kanan aja, tapi gak mungkinlah, apa kata dunia??

Hmm.. that’s strange.. but that’s okay, keep walking then it will be warmer.

Paul menasehatiku untuk terus bergerak supaya badan mengeluarkan panas.

Okay. Aku mau buktiin. Jatuh bangun aku terus menguatkan hati berjalan mengikuti mereka. Setelah cukup lama, eh bener..  tangan kakiku gak sakit lagi.. Aku mulai rileks. Perjalanan yang asik, tapi tetap melelahkan.

Ditengah perjalanan saat kami beristirahat, wow hujan salju… indahnyaa… penutup kepalaku, jaket, tas, langsung putih-putih tertutup salju. Tapi kami gak bisa berdiam lama-lama. Kami harus tetap berjalan untuk menyelesaikan rute ini. Untung aku membawa kacamata hitamku. Aku memakainya untuk melindungi mata dari taburan salju, sekaligus buat gaya, tentu saja :p

Setelah sekitar satu jam lebih di tengah hutan itu, kami mendapati diri kami sendirian tanpa tahu arah. Rutenya gak jelas, kami kesulitan mencari petunjuk arah. Kata Paul, ini tipikal Belgium, selalu membingungkan. Rasanya perjalanan ini sudah sangat panjang. Aku mulai bosan dan kecapean. Anne juga kelelahan hingga tidak sanggup meluncur-luncur lagi. Dia hanya berjalan pendek. Paul bingung. Dia harus membawa dua gadis ini pulang dengan selamat.

Aku berdoa supaya kami bisa segera keluar dari tempat syuting lord of the rings ini (cuma fantasiku aja😉. Walaupun pemandangan hutan sangat indah dengan pepohonan tinggi berselimut salju tebal, ditambah dengan kabut tebal yang menggelayut, sumpe deh, aku nggak ingin mati disini..😀

Kami terus berjalan, aku terseok-seok, dan ooh rasanya aku sangat bahagia saat melihat ada makhluk lain, terutama manusia (FYI, banyak juga lho anjing ikutan sport, dasar kurang kerjaan).

Lebih bahagia lagi, saat kulihat plang yang kulihat saat mau masuk rute tadi. Rasanya pengen sujud syukur. Setengah jam kemudian, kami sudah berada di mobil menuju Belanda. Wahh aku merasa sangat beruntung, pengalaman yang super, mungkin yang pertama dan terakhir. Mempesona, melelahkan sekaligus menegangkan. Keesokan harinya, seluruh badanku sakit. Wajar saja, baru belajar jalan, udah 4 km!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s