Berawal dari ‘Haram’

Coba bayangkan, seandainya di usia 22 tahun, kamu punya uang sekitar 20 juta. Mau ngapain dengan uang sebanyak itu? Jalan-jalan keluar negeri? Bayar DP rumah? Nabung buat biaya kawin (lagi)? Atau investasi usaha? Oke, investasi usaha mungkin hal yang paling produktif. Namun ada cara yang kuketahui secara tidak sengaja, dan ternyata jauh lebih produktif. Suatu cara menghabiskan uang yang tidak akan pernah ku sesali seumur hidup! (perasaan kok kayak motivator MLM ya).

Di suatu sore, Bapakku mengabarkan bahwa aku punya bagian 20 juta dari tanahnya yang terjual. Semua saudaraku sudah mendapat bagian mereka sendiri-sendiri. Sementara sisanya, akan dipakai oleh bapakku untuk naik haji. Ibuku sendiri sudah naik haji 3 tahun sebelumnya. Waktu itu aku baru beberapa bulan lulus dari kuliah S1 ku di UI. Umurku baru 22 tahun. Aku ingin memakai uang itu, tapi nggak tau buat apa. Belum terpikir untuk beli rumah atau buat usaha. Pengennya sih beli cowok ganteng, tapi gak ada yang jual, hehehe…

Sebenarnya, mimpiku waktu itu ingin S2 diluar negeri dan keliling dunia. Jiahhh uang cuma 20 jeti, jangankan S2 diluar negeri, dalam negeri saja mungkin nggak cukup. Apalagi mau keliling dunia. Aku berpikir keras. Mau dibawa kemana uang ini… Entah bisikan dari mana yang memberiku ide, malam itu aku menghadap Bapakku kembali. Setelah bersemedi… eng ing eng…

“Pak, saya mau… ikut naik haji…“

Setengah tak percaya, berkaca-kaca mata Bapakku mendengar kata-kataku. Sebenarnya bapakku agak ragu. Karena inilah satu-satunya uang besarku. Kalau ini dihabiskan untuk sekali saja, maka kedepannya sudah tidak ada lagi asetku. Tapi aku tetap kekeuh ingin ikut. Itung-itung nemenin bapakku, daripada pergi sendirian.

Pendaftaran dilakukan dan kami dijadwalkan berangkat pada bulan Desember 2006. Aku terdaftar sebagai calon haji termuda dari kotaku. Aku memulai persiapanku dengan lari pagi dan membeli banyak buku tentang Haji dan Umrah. Aku mempelajari tumpukan buku seperti mau ujian. Tapi dasar jiwa traveler, naik haji kusamakan dengan jalan-jalan. Aku bela-belain minjam kamera teman yang agak bagusan dan membawa sebuah handycam untukku melakukan syuting di Arab sana  ;)

Nah, balik ke masalah uang 20 juta tadi, jadi aku telah memutuskan untuk menghabiskan uang tadi untuk ikut bapakku naik haji. Aku bersenang-senang disana, serasa liburan. Ibadah jalan, lirik kanan-kiri tetepp… namanya juga anak muda, hehehe.. Ohya, disana banyak tempat yang katanya paling makbul untuk berdoa, kayak depan Ka’bah antara pintu dan Hajar Aswad, Raudhah di Masjid Nabawi, dan Jabal Rahmah, tempat pertemuan Adam dan Hawa yang terkenal untuk doa mudah jodoh. Didepan Ka’bah dan Raudhah, segera aku mengeluarkan list doaku yang berlembar-lembar (gak cuma doaku tapi titipan teman-teman, keluarga dan orang sekampung). Selain masuk surga dan doa-doa spiritual lainnya, salah dua (bukan salah satu) doa prioritasku yang selalu kusebut berulang-ulang adalah agar mimpiku terwujud: S2 diluar negeri dan keliling dunia.

Pulang haji pada Januari 2007, uangku habis, aku kembali kere. Aku belum dapat pekerjaan tetap, hanya proyek-proyek pendek saja. Tapi hanya selang beberapa bulan kemudian, aku dapat peluang emas. Aku lolos seleksi pertukaran relawan Palang Merah ke Belanda. Cuma 10 hari sih, tapi senengnya bukan main. Setelah itu aku dikontrak bekerja di PMI untuk sebuah project penanggulangan HIV di Lapas. Gajinya sih tidak besar, tapi aku sempat menyisihkan uang untuk liburan ke Malaysia. Di Kuala Lumpur, aku mendapat penjemputan, tumpangan tidur, dan jalan-jalan gratis, dari seorang Kakak kenalanku pada saat sholat di Masjidil Haram. Wew,, rejeki emang gak kemana, berkah Masjidil Haram🙂

Setelah 2 tahun bekerja di PMI, aku melamar beasiswa. Aih, Alhamdulillah, dasar nasib selalu beruntung, walaupun telat daftar dan awalnya hanya ditempatkan pada posisi cadangan, aku lulus! Uhuyy, aku terbang kembali ke Belanda untuk kuliah S2 di Den Haag. Tapi misiku kesana bukan menjadi menjadi pelajar terbaik, cukup menjadi pelajar oke. Belajar oke, kerja oke, jalan-jalan oke, nonton oke, party juga oke :p

Sehingga dalam waktu 16 bulan, aku mengeksplor secara maksimal apa-apa yang bisa aku lakukan. Dimasa akhir setiap term, aku selalu mempercepat pembuatan tugas essayku, dan membawanya jalan-jalan, kemudian submit dari luar negeri. Pada saat merayakan ulang tahunku yang ke 27, aku bolos kuliah seminggu, demi menjadi relawan dalam tour perjalanan kapal Henry Dunant yang membawa orang-orang tua dan sakit keliling Belanda. Disana aku bekerja dari pagi sampai malam di restoran kapal. Summer 2011, disaat teman-temanku pulang ke Indonesia untuk ambil data, aku memilih untuk jalan-jalan ke beberapa negara lagi di Eropa. Kemudian saat yang lain berkutat dengan Research Papernya, aku kerjakan sebisaku saja, lalu sibuk dengan kegiatan magangku di Palang Merah Belanda. Hingga beberapa hari sebelum pulang ke Indonesia, aku masih mencoba pengalaman ice walking di titik tertinggi Belgium bernama Baraque Michel. Total dalam 16 bulan itu, aku telah menjalani 13 negara di Eropa, termasuk Turki yang berada di benua Asia dan Eropa.

Berawal dari “Haram”, alias Masjidil Haram, aku yakin bahwa 20 jutaku telah kuhabiskan dengan spektakuler. Subhanallah Allahu Akbar, dengan 20 juta, aku telah mewujudkan mimpiku untuk mendapat gelar master dari luar negeri dan menjejakkan kakiku di Saudi Arabia, Malaysia, serta 13 negara di Eropa. Belum keliling dunia sih, tapi Insyaallah kesempatan-kesempatan itu akan segera tiba. Seorang juri di acara TV Dai Impian mengatakan, kalau menginginkan sesuatu lebih cepat, jangan langsung terobsesi mengejar kedepan. Tapi tembakkan dulu keatas, minta Pada-Nya. Itu yang telah kubuktikan, Allah telah mendengar doaku di tempat-tempat ijabah dan mengabulkannya.

Duh, sayangnya aku melewatkan kesempatan berdoa di Jabal Rahmah, tempat Adam dan Hawa bertemu, jadi kamu tau apa yang belum kudapatkan :p

13 thoughts on “Berawal dari ‘Haram’

  1. Smg g harus nunggu k jabal rahmah bwt dpt jodoh : p. Nice story… bener koq membuka cakrawala n g nyesel dtg k blog ini… terus berkarya feb!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s